Minggu, 17 Februari 2013

BERSIAP PULANG TANPA PERINGATAN


Sadar atau tidak, selalu saja ada hal-hal mengejutkan penuh pembelajaran yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita, tanpa kita rencanakan sebelumnya. Tapi pastilah ada maksud yang Allah simpan di balik tiap-tiap kejadian yang hadir dalam kehidupan kita tersebut.

***

Hari ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki ke kampus lagi di semester yang baru, setelah sempat mengambil cuti beberapa waktu yang lalu. Universitas Pendidikan Indonesia, kota Bandung.

Tepat pk 13.00 saya memasuki ruang kelas dan menyimak materi mengenai Bisnis Internasional. Saat itu saya ngantuk sekali. Benar-benarme ngantuk. Kebetulan cuaca sedang mendung, rasa mengantuk pun semakin tak tertahankan. Maka tepat pk 15.00 saat kelas selesai, saya bertekad untuk langsung pulang, menunaikan shalat ashar, kemudian mengistirahatkan diri.

Tapi Allah berkehendak lain. Baru selangkah saya keluar kelas, tiba-tiba hujan turun sangat deras, tanpa gerimis sebelumnya. Mata saya sudah mengatup-ngatup tak tertahankan. Saya terobos saja hujan itu dengan harapan bisa semakin reda. Tapi kenyataannya malah sebaliknya.

Saya menyerah. Saya harus berteduh karena saya tidak membawa payung. Saya arahkan langkah saya menuju masjid di kampus saya, Masjid Al Furqon. Saya mengambil wudhu, kemudian shalat berjamaah. Tidak ada yang aneh. Semua biasa-biasa saja.

Tepat ketika saya mengangkat kepala dari sujud terakhir saya, tergambar bayangan keranda jenazah dari balik hijab yang membatasi area shalat perempuan dan laki-laki. Tapi saya abaikan, saat itu saya masih sangat mengantuk, sulit untuk berpikir ataupun fokus. Lagipula, orang meninggal yang dishalatkan di masjid Al Furqon itu sudah biasa.

Setelah salam terakhir, imam shalat jamaah ashar meminta para jamaah yang berkenan untuk menyalatkan jenazah. Disebutkan jenazah tersebut bernama EA (inisial). Saya pun tidak kenal siapa almarhum. Kemudian saya bersama dengan jamaah yang lain menunaikan shalat jenazah.

Setelah shalat jenazah usai ditunaikan, saya yang masih dalam kondisi mengantuk namun terjebak hujan sehingga tidak bisa pulang pun akhirnya tetap terduduk di dalam masjid. Di sinilah awal mula saya merasa tertampar.

Imam shalat mengambil microphone dan beliau berkata, “Di sini sudah ada pembantu rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Ketua Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Ketua Jurusan Geografi. Sebelum kita melepas kepergian almarhum, mari kita mendengarkan pemaparan kronologis kematian, riwayat hidup almarhum, dan ditutup oleh doa.”

Keadaan itu mulai menarik perhatian saya. Siapa sebetulnya jenazah itu? Kenapa para petinggi kampus harus menyampaikan pemaparan kronologis kematian? Lalu kenapa jenazah mahasiswa kok dishalatkan di masjid kampus? Ada apa sebetulnya?

Dipanggil lah bapak pembantu rektor III yang kemudian mengambil alih microphone. Beliau berkata, “Almarhum adalah salah satu mahasiswa jurusan Geografi angkatan 2010, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahua Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia.”

Saat itu saya mulai mengerti kenapa ada perwakilan-perwakilan kampus. Tapi saya masih belum paham, kenapa harus sampai mengundang para petinggi. Karena penasaran, saya fokus menyimak.
“Berikut pemaparan kronologis kematian almarhum. Almarhum adalah korban kecelakaan lalu lintas. Tepatnya ketika almarhum mengendarai motor hendak kuliah menuju kampus. Sebuah kondisi yang tidak terduga di jalan raya, almarhum terlindas truk tangki besar yang membawa minyak, mengalami pendarahan luar biasa tepat di kepala, dan meninggal seketika.”
Rasa kantuk saya tiba-tiba hilang. Tidak menyangka bahwa jenazah yang saya shalatkan itu korban kecelakaan tragis di jalan raya. Saya mendadak merinding sebab tak sengaja memvisualisasikan kejadian yang bapak pembantu rektor deskripsikan tadi. Inalillahi..
Bapak pembantu rektor mengalihkan microphone kepada ketua Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Pada giliran beliau ini beliau dipersilakan untuk membacakan riwayat hidup almarhum.
“Almarhum bernama EA (inisial), mahasiswa jurusan Geologi angkatan 2010. Bertempat tinggal di daerah Cianjur. Merupakan salah satu mahasiswa yang baik. Sekian riwayat hidup almarhum.”
Mungkin bagi kebanyakan orang saat mendengarkan pemaparan barusan itu, tidak ada makna yang luar biasa. Tapi saya, setelah mendengar riwayat hidup yang demikian, saya ber-muhasabbah sangat dalam.

Saya bertanya-tanya. Kenapa sangat singkat riwayat hidupnya? Kenapa tidak ada pencapaian-pencapaian yang diutarakan?
Seketika saya menundukkan kepala, menelusuri kisah kehidupan saya mulai masa lampau hingga saat ini. Adakah riwayat hidup kematian saya kelak akan dibacakan sesingkat itu? Adakah yang bisa dibanggakan sebagai karya yang tetap terkenang meski raga sudah menghilang? Adakah manfaat yang sudah saya tebarkan hingga saat ini? Sungguh tiba-tiba saya diliputi muhasabbah diri sangat dalam.

***

Siapa yang tahu kapan giliran kita dipanggil ‘pulang’ oleh-Nya. Allah sangat mungkin memanggil kita pulang tanpa peringatan. Contoh nyata di hadapan saya, ya kecelakaan lalu lintas ini. Apa pernah almarhum berpikir bahwa dia akan menghadap Allah pada saat dia sedang melakukan perjalanan berangkat ke kampus seperti yang biasanya ia lakukan? Saya yakin tidak. Tapi ya itulah.. Allah memanggil hamba-Nya pulang, tanpa peringatan.

Saya sungguh sangat penasaran. Saya buka akun twitter official kampus saya yang sangat update berita-berita terbaru tentang kampus. Betul saja, berita tentang kematian almarhum sudah di publish beserta kronologisnya.

Salah satu twit menyita perhatian saya, sebab twit tersebut melakukan mention pada akun twitter pribadi almarhum. Saya klik, dan saya stalking timeline-nya.

Twit terakhir dari akun twitter pribadi almarhum di update pada pagi hari ini. Saya penasaran dan saya scroll-scroll ke bawah. Ternyata saya menemukan banyak sekali percakapan sia-sia, dengan kata-kata yang kurang baik dan kurang sopan. Saya mengecek avatar twitternya pun berupa gambar orang sedang mengacungkan jari tengahnya, simbol perendahan. Sama sekali tidak menggambarkan kebaikan.

Seketika saya ber-muhasabbah lagi. Betul-betul kita tidak pernah tahu kapan giliran kita. Maka adalah benar bahwa kita harus senantiasa berucap, bertindak, beramal, dalam kebaikan, sesuai dengan yang Allah perintahkan. Sebab bila ternyata tiba waktu kita dipanggil pulang, jejak-jejak kehidupan terakhir kita sangat sangat menggambarkan siapa diri kita.

Saya merenung hingga meneteskan air mata. Allah memberikan pembelajaran hebat pada saya sore ini. Kisah nyata di hadapan saya. Kisah nyata yang memberikan gambaran sederhana tentang betapa singkatnya kehidupan dan betapa tiada gunanya menghabiskan waktu dengan alasan “Mumpung masih muda..” Usia tidak ada yang tahu. Cara meninggalnya pun kita tidak tahu. Bisa jadi saat kita sedang sangat tidak siap, kita dipanggil pulang tanpa peringatan.

***

Ternyata hujan sore ini, tergeraknya hati saya untuk berteduh dan melangkahkan kaki menuju masjid, semuanya sudah di desain Allah untuk memberikan pelajaran hebat. Pelajaran tentang mempersiapkan sebuah kepulangan yang bisa jadi dilakukan tanpa peringatan.

Betul-betul tak ada pilihan lan selain mengisi detik demi detik kehidupan kita dengan kebaikan dan penebaran kebermanfaatan. Tidak ada pilihan. Dipastikan sombong orang yang berleha-leha menunda kebaikan. Siapa tahu tak lama lagi, malaikat maut tengah menantikan kita di penghujung usia yang kita tidak sadari tengah siap-siap mencapai akhir.
Kejadian sore hari ini semakin menguatkan saya untuk semakin mantap melangkah meningkatkan kualitas diri dan keimanan di hadapan Allah. Saya tau setiap manusia adalah tempatnya khilaf dan dosa, tapi ampunan Allah sangatlah luas. Saya bertekad meraih ampunan serta keridhoan-Nya, sebab saya sadar bahwa saya tidak akan pernah sanggup menemui-Nya, dalam kondisi lalai kepada-Nya, menyia-nyiakan anugerah kehidupan dari-Nya.


Sumber : 
http://febriantialmeera.com/bersiap-pulang-tanpa-peringatan/

0 komentar:

Posting Komentar